MENCARI WAKTU…

Standar

Waktu… waktu… waktu…
jam berapa..? tanggal berapa..? jam berapa..?
itulah yang selalu muncul dalam setiap kehidupan kita.. jam, hari, tanggal… ahhh.. sungguh itu selalu muncul dalam kepaku… bahkan ketika solatpun, masih saja sempat terpikirkan jam…
Manuasia memang selalu mau menangnya sendiri… ketika merasa nyaman dengan keadaan, mereka akan selalu berharap waktu itu berhenti… namun ketika keadaan berkata lain, mereka akan berpikir kenapa waktu tidak cepat saja berputarnya…
Waktu… waktu.. waktu…. WAKTUUUUUUUUUUUUUUUUUU..
tapi inilah alam… dimana bumi selalu berputar mengelilingi matahari, bulan selalu berputar mengelilingi bumi…. dan manusia selalu berlari mengejar matahari (kayak pelm)…
Inilah hakikatnya manusia, manusia tidak akan bisa menghentikan waktu, manusia juga tidak akan bisa mempercepat waktu… yang manusia bisa hanya memanfaatkan waktu…
Tapi.. yang jadi masalah.. ketika kita senang mengapa kita selalu merasa waktu kita kurang… Tapi yang jadi masalah juga kalu manusia bisa menghentikan waktu….
Ya sudahlah…. waktu memang terus berjalan… untuk mempersingkat waktu.. karena waktu sudah siang… sekian dulu waktu saya untuk menulis… lain waktu saya akan mencoba meluangkan waktu menulis di lain waktu….
BINGAUNG KAN……………

Informasi Seputar Flek.

Standar

Sobat ini saya sampaikan info yang saya dapet dari web IDAI, memang ini hanya copian… Tapi semoga ini bermanfaat buat kita semua, karena kondisi ini juga terjadi pada anak saya…

“Flek Paru” Istilah yang Rancu – Informasi Singkat Tentang Tuberkulosis
(TB) Anak

Banyak sekali anak-anak yang divonis sebagai “flek paru’ dan harus
menjalani “hukuman” minum obat jangka lama, paling tidak hingga 6 bulan.
Jika ditanyakan kepada orangtuanya apa yang dimaksud flek paru? Biasanya
orang tua pasien tidak tahu, Bila ditanya lebih lanjut apakah anaknya
mendapat obat yang membuat air seninya berwarna merah ? Jika jawabnya
“Ya”
kemungkinan besar yang dimaksudkan sebagal “flek paru” adalah
Tuberkulosis/TBC paru atau saat ini disebut TB saja.

Mengapa dokter tidak menyatakan sebagai TB? Sebagian kalangan di
masyarakat beranggapan bahwa TB bukan penyakit yang “bergengsi”, Beda
misalnya dengan penyakit jantung yang dianggap lebih “terhormat”.
Sebagian pasien tidak berkenan jika dinyatakan Sakit TB. Khawatir pasien
tidak dapat menerima, dokter berusaha menyamarkan penyakitnya dengan
istilah flek paru. Saat ini umumnya pasien sudah berpikiran terbuka dan
dapat menerima jika dinyatakan Sakit TB. Sebaiknya dokter berterus
terang menyatakan Sakit TB tanpa menyamarkan dengan
Istilah flek paru yang justru tidak mendidik pasien.

Mengapa disamarkan dengan istilah “flek paru” ? Flek berasal dan bahasa
Belanda yang artinya ?noda?. Awalnya dari foto Rontgen paru pasien TB,
yang dapat memberikan gambaran bercak-bercak putih seperti noda pada
paru sehingga disebut “flek”, Istilah flek paru tidak
pernah diajarkan di fakultas kedokteran manapun, dan juga tidak pernah
disebut dalam artikel kedokteran manapun, Istilah ini rancu dan kesannya
kurang menghargai kecerdasan pasien Sama halnya dengan istilah “panas
dalam” yang laris manis digunakan dalam iklan minuman penyegar. Keduanya
sama sekali tidak mempunyai rujukan di dunia medis.

Apakah semua gambaran “flek” pada paru berarti TB ? Tidak !!! Semua
penyakit di paru (dan itu banyak sekali jenisnya) dapat memberi gambaran
“flek’ yang tidak dapat dibedakan dengan TB. Bahkan orang sehatpun pada
Rontgen parunya akan ada gambaran bercak-bercak putih yang istilah
medisnya infiltrat. Sebagai contoh Mike Tyson jika dironsen juga ada
“flek”nya, tapi dia sama sekali tidak Sakit TB. Jadi tidak bisa
mendiagnosis Sakit TB hanya dari Rontgen saja !

Gambaran Rontgen seperti apa yang menunjukkan adanya TB paru? TB paru
dapat memberikan gambaran infiltrat yang lebih khusus pada foto Rontgen,
istilahnya gambaran yang sugestif TB. Misalnya gambaran miller (bercak
kecil putih merata di seluruh paru), atau gambaran atelektasis
(gambaran putih padat akibat pengerutan sebagian paru), dll. Sekalipun
gambarannya sugestif TB, foto Rontgen saja tidak bisa dijadikan dasar
tunggal diagnosis TB, tetap harus disertai gejala dan tanda sakit TB,
dan pemeriksaan penunjang lain.

Jadi diperlukan pemeriksaan lain, apakah itu ?
Ya, pertama-tama jika seorang anak dicurigai Sakit TB harus dibuktikan
dulu adanya Infeksi TB (adanya kuman TB dalam tubuh seseorang). Caranya
dengan uji tuberkulin atau yang lazim dikenal sebagai Mantoux test. Jika
hasilnya negatif berarti tidak ada infeksi, dan bila infeksinya saja
tidak ada bagaimana mungkin bisa sakit TB.

Jika hasil uji Mantoux positif apakah berarti sakit TB ?
Belum tentu. Hasil uji Mantoux positif hanya menunjukkan adanya Infeksi
TB, bukan menandakan pasiennya Sakit TB. Jadi harus dibedakan antara
Infeksi TB dengan Sakit TB. Orang dewasa di Indonesia umumnya sudah
terinfeksi TB tanpa sakit TB, sehingga jika dilakukan uji Mantoux pada
orang dewasa di Indonesia maka umumnya akan positif.

Ada yang mengatakan uji Mantoux bisa negatif padahal ada Sakit TB, apa
benar?
Benar. Uji Mantoux dapat memberikan hasil negatif palsu yang disebut
anergi. Anergi dapat dijumpai pada keadaan tertentu misalnya gizi buruk,
Sakit TB yang berat, tifus yang berat, campak, cacar air, menggunakan
obat steroid jangka lama, dan berbagai keadaan lain yang menyebabkan
penekanan system imun (kekebalan) tubuh, Jika tidak ada salah satu
keadaan tersebut sangat kecil kemungkinannya terjadi anergi.

Bagaimana dengan pemeriksaan darah?
Biasanya pemeriksaan darah yang dimaksudkan untuk TB adalah LED (laju
endap darah) dan hitung jenis limfosit, Kedua pemeriksaan ini nilai
diagnostiknya untuk TB rendah, jauh lebih rendah dibanding foto Rontgen,
sehingga hanya digunakan sebagai data tambahan.

Adakah pemeriksaan darah lain untuk TB?
Ada, yaitu pemeriksaan PCR dan serologis, seperti PAP TB, Mycodot, ICT
dll. Namun semua pemeriksaan itu tidak lebih unggul daripada uji
Mantoux, Semua pemeriksaan itu jika positif juga hanya menunjukkan
adanya Infeksi TB, tidak bisa untuk menentukan ada tidaknya Sakit TB.

Lalu apa bedanya Sakit TB dengan Infeksi TB?
Jika orang (dewasa atau anak) mengalami Sakit TB akan menunjukkan gejala
dan tanda Sakit TB. Sedangkan jika hanya terinfeksi TB tanpa sakit TB
tidak akan ada gejala dan tanda sakit TB.

Apa gejala dan sakit TB pada anak?
Gejala dan tanda Sakit TB pada anak sangat luas variasinya, mulal dari
yang sangat ringan sampai sangat berat. Gejala dan tanda yang mengawali
kecurigaan Sakit TB pada anak di antaranya adalah MMBB (Masalah Makan
dan Berat Badan), demam lama atau berulang, gampang / sering tertular
sakit batuk pilek, adanya benjolan yang banyak di leher, diare yang
sulit sembuh dll. TB juga dapat menyerang berbagai organ di seluruh
tubuh sehingga bias timbul gejala pincang jika mengenai sendi panggul
atau lutut, benjolan banyak di leher, bisa juga terjadi kejang jika
mengenai susunan saraf pusat / otak.

Apakah batuk lama atau berulang juga merupakan gejala Sakit TB?
Batuk lama atau berulang merupakan salah satu gejala utama Sakit TB pada
orang dewasa. Pada anak batuk lama / berulang dapat merupakan gejala
Sakit TB, tapi bukan gejala utama. Pada anak ada penyakit lain yang
gejala utamanya batuk lama / berulang yaitu asma. Banyak kasus asma pada
anak yang keliru divonis TB. Asma dengan TB merupakan dua penyakit yang
sama sekali berbeda namun sering dikelirukan.

Apakah jika ada tersebut berarti sakit TB?
Belum tentu. Berbagai gejala tadi bukan ?monopoli? Sakit TB, tapi dapat
juga disebabkan oleh berbagai penyakit lain. Itulah sebabnya uji Mantoux
sangat penting untuk menentukan dulu apakah ada Infeksi TB atau tidak,
Jika tidak ada Infeksi TB, berarti berbagai gejala tadi disebabkan oleh
penyakit lain.

Sebenarnya apa penyebab TB, apakah penyakit keturunan atau penyakit
menular?
TB bukan penyakit keturunan, tapi penyakit menular. TB menupakan salah
satu bentuk penyakit infeksi. Penyakit infeksi adalah penyakit yang
disebabkan masuk dan berkembangbiaknya kuman dalam tubuh seseorang.
Kuman adalah makhluk hidup yang sangat kecil sekali (mikro == jasad renik) yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Ada
jutaan jenis kuman salah satu di antaranya adalah kuman TB.

Bagaimana cara penularannya?
Ada beberapa cara penularan, tapi yang paling sering adalah melalui
saluran respiratonik (pernapasan). Pasien TB dewasa dengan TB paru, jika
batuk, bersin, menyanyi, atau bicara akan menghembuskan ribuan kuman TB
ke udara di sekitarnya. Bila kuman ini terhirup oleh orang lain, maka
orang tersebut dapat terinfeksi.

Apakah jika kita berhubungan dengan pasien TB paru dewasa, pasti akan
tertular?
Belum pasti tertular. Banyak faktor yang berperan untuk terjadinya
infeksi TB. Faktor sumber penularan, lingkungan, dan faktor daya tahan
tubuh. Tingkat eratnya hubungan (kontak) juga sangat berperan. Makin
erat kontak (dose contact) dan makin lama, makin besar risiko tertular.

Apakah anak yang sakit TB menular dan perlu dipisahkan dari orang lain?
Tidak! Yang menular adalah pasien TB paru dewasa, pasien TB paru anak
tidak menular sehingga tidak perlu dipisahkan apalagi dikucilkan. Yang
perlu diingat, jika seorang anak terinfeksi TB, berarti ada orang dewasa
sebagai sumber penularannya yang perlu dicari dan kemudian diobati agar
tidak menulari orang lain lagi.

Sumber : http://www.dokteranak.or.id

Madu Sehat untuk Si kecil

Standar

Rasanya sedih sekali kala kita mendapati buah hati yang lucu sering sakit-sakitan. Walaupun mungkin kita mampu untuk mengobatinya, tapi tetep aja pikiran gak bisa tenang. Itu terjadi pada si kecil yang nomor 2. Namanya Ahza, lahir pada usia kehamilan 7 bulan, umur 4 bulan setelah kelahirannya masuk rumah sakit setelah di diagnosa Pneumonia, umur 6 bulan kembali masuk rumah sakit, kemudian saat umur 1 tahun kembali masuk rumah sakit dengan diagnosa pneumonia juga……

Rasanya dunia seperti tidak bersahabat, bukan karena masalah biaya, tetapi masalah pikiran yang merasa kasihan dengan si kecil. Bagaimana tidak..? Setiap masuk RS selalu terpasang jarum suntik, apalagi si kecil badannya tergolong besar. Umur 4 bulan = 7 kg, sehingga para perawat agak kesusahan mencari jalur buat infus, sehingga harus selalu berulang ulang…. Ngeri deh…

Setelah usia 1 tahun, kembali si kecil sering drop. Setelah dokter menyarankan cek darah, ternya Hb si kecil selalu rendah, ini juga dibuktikan dengan kelopak mata yang selalu berwarna putih..

Hampir setiap 3 hari sekali istri selalu membawa si kecil ke dokter….. CAPEK…CAPEK….. dan setiap hari pula si kecil harus selalu minum obat yang di berikan dokter yang katanya untuk anti alerginya…

Alhamdulillah…. Setelah cari cari kesana kemari saya menemukan madu yang cocok bagi si kecil.. setelah sering menkonsumsinya sekarang si kecil kondisi badannya sudah tidak sering drop, walaupun sang kakak batuk si kecil tetep mampu bertahan sampai batuk si kakak hilang..

Sejak itu si kecil dan sang kakaknya selalu saya bisakan menkonsumsinya sehari sekali untuk pencegahan, dan saya juga menjualnya kepada teman2 kantor dan tetangga tetangga, jadi dirumah selalu ada stok.. Bagi sobat yang pengen mencobanya bisa saya kirimkan dengan mengganti ongkos pembelian (tapi untuk transfer kan minimal 100 ribu, jadi belinya 4 ya… hehehehehe…., tapi jangan lupa di tambah ongkos kirim..)

Ini saya sampaikan sekilas produk yang saya pakai buat si kecil…

JADIED KIDS PLATINUM

KOMPOSISI:
– Madu
– sari Kurma
– Curcuma
– Spirulina
– Propolis
– Habbatussauda
– Omega 3, 6 & 9
– Jahe merah

JADIED KID`S PLATINUM merupakan ramuan tradisional yang dibuat dari madu murni, curcuma dan spirulina dengan komposisi seimbang untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Khasiat:
– meningkatkan daya konsentrasi dan gairah belajar
– Meningkatkan fungsi sel otak
– Meningkatkan daya tahan tubuh
– Membantu meningkatkan pertumbuhan anak
– Menjaga anak tetap enerjik dan lincah
– Meningkatkan nafsu makan

Petunjuk pemakaian:
2 bulan – 1 tahun : 2×1 sendok teh per hari
1 tahun – 3 tahun : 2×1 sendok teh per hari
3 tahun – 12 tahun : 3x 1-2 sendok makan per hari

Harga : Rp.25.000,-
Berat Produk : 180 gram

NB: Anda tertarik, Anda bisa memesan melalui link berikut Klik disini

DIABETES (1)

Standar

Diabetes Mellitus

Nama lengkap diabetes adalah diabetes mellitus yang berarti “gula madu”. Istilah “diabetes melitus” berasal dari Bahasa Yunani yang jika diterjemahkan berarti “mengalirkan melalui pipa dengan tekanan atmosfer” dan dari Bahasa Latin yang dapat diterjemahkan menjadi “semanis madu”.

Pengertian dari Bahasa Yunani dan Latin menggambarkan diabetes dengan tepat. Karena air melewati tubuh penderita diabetes seolah-olah dialirkan dari mulut lewat saluran kemih dan langsung keluar dari tubuh. Air seni diabetisi (pengidap diabetes) rasanya manis karena mengandung gula. Dulu, salah satu tes untuk diabetes ialah dengan menuangkan air seni sang pasien ke dekat sarang semut. Jika serangga itu mengerumuni air seni, hal ini menunjukkan adanya gula. Itu sebabnya diabetes sering disebut sebagai penyakit kencing manis.

Apa itu Diabetes?

Setiap makanan yang kita santap akan diubah menjadi energi oleh tubuh. Dalam lambung dan usus, makanan diuraikan menjadi beberapa elemen dasarnya, termasuk salah satu jenis gula, yaitu glukosa. Jika terdapat gula, maka pankreas menghasilkan insulin, yang membantu mengalirkan gula ke dalam sel-sel tubuh. Kemudian, gula tersebut dapat diserap dengan baik dalam tubuh dan dibakar untuk menghasilkan energi.

Indonesia menempati peringkat empat negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia

Ketika seseorang menderita diabetes maka pankreas orang tersebut tidak dapat menghasilkan cukup insulin untuk menyerap gula yang diperoleh dari makanan. Itu yang menyebabkan kadar gula dalam darah menjadi tinggi akibat timbunan gula dari makanan yang tidak dapat diserap dengan baik dan dibakar menjadi energi. Penyebab lain adalah insulin yang cacat atau tubuh tidak dapat memanfaatkan insulin dengan baik.

Insulin adalah hormon yang dihasilkan pankreas, sebuah organ di samping lambung. Hormon ini melekatkan dirinya pada reseptor-reseptor yang ada pada dinding sel. Insulin bertugas untuk membuka reseptor pada dinding sel agar glukosa memasuki sel. Lalu sel-sel tersebut mengubah glukosa menjadi energi yang diperlukan tubuh untuk melakukan aktivitas. Dengan kata lain, insulin membantu menyalurkan gula ke dalam sel agar diubah menjadi energi. Jika jumlah insulin tidak cukup, maka terjadi penimbunan gula dalam darah sehingga menyebabkan diabetes.

Penyebab penyakit kencing manis atau diabetes tergantung pada jenis diabetes yang diderita. Ada 2 jenis diabetes yang umum terjadi dan diderita banyak orang yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Perbedaannya adalah jika diabetes tipe 1 karena masalah fungsi organ pankreas tidak dapat menghasilkan insulin, sedangkan diabetes tipe 2 karena masalah jumlah insulin yang kurang bukan karena pankreas tidak bisa berfungsi baik.

Diabetes Tipe 1

Penyakit diabetes tipe 1 sering disebut Insulin Dependent Diabetes Mellitus atau Diabetes Mellitus yang Bergantung pada Insulin. Jadi diabetes tipe 1 berkaitan dengan ketidaksanggupan pankreas untuk membuat insulin. Jadi diabetes tipe ini berkaitan dengan kerusakan atau gangguan fungsi pankreas menghasilkan insulin.

Penderita penyakit diabetes tipe 1 sebagian besar terjadi pada orang di bawah umur 30 tahun. Itu sebabnya penyakit ini sering dijuluki diabetes anak-anak karena penderitanya lebih banyak terjadi pada anak-anak dan remaja. Pada diabetes tipe 1, pankreas tidak dapat menghasilkan cukup insulin akibat kelainan sistem imun tubuh yang menghancurkan sel yang menghasilkan insulin atau karena infeksi virus sehingga hormon insulin dalam tubuh berkurang dan mengakibatkan timbunan gula pada aliran darah.

Penyebab Diabetes Tipe 1

Pada diabetes tipe 1, pankreas tidak dapat menghasilkan cukup insulin. Karena kekurangan insulin menyebabkan glukosa tetap ada di dalam aliran darah dan tidak dapat digunakan sebagai energi. Beberapa penyebab pankreas tidak dapat menghasilkan cukup insulin pada penderita diabetes tipe 1, antara lain karena:

Perawatan Diabetes Tipe 1

Karena pankreas kesulitan menghasilkan insulin, maka insulin harus ditambahkan setiap hari. Umumnya dengan cara suntikan insulin. Apakah bisa dengan perawatan secara oral? Tidak bisa, karena insulin dapat hancur dalam lambung bila dimasukkan lewat mulut.

Cara lain adalah dengan memperbaiki fungsi kerja pankreas. Jika pankreas bisa kembali berfungsi dengan normal, maka pankreas bisa memenuhi kebutuhan insulin yang dibutuhkan tubuh.

 

Diabetes Tipe 2

Penyakit diabetes tipe 2 sering juga disebut Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus atau Diabetes Mellitus Tanpa Bergantung pada Insulin. Berbeda dengan diabetest tipe 1, pada tipe 2 masalahnya bukan karena pankreas tidak membuat insulin tetapi karena insulin yang dibuat tidak cukup. Kebanyakan dari insulin yang diproduksi dihisap oleh sel-sel lemak akibat gaya hidup dan pola makan yang tidak baik. Sedangkan pankreas tidak dapat membuat cukup insulin untuk mengatasi kekurangan insulin sehingga kadar gula dalam darah akan naik.

Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang sebagian besar diderita. Sekitar 90% hingga 95% penderita diabetes menderita diabetes tipe 2. Jenis diabetes ini paling sering diderita oleh orang dewasa yang berusia lebih dari 30 tahun dan cenderung semakin parah secara bertahap.

Penyebab Diabetes Tipe 2

Penyebab diabetes tipe 2 karena insulin yang dihasilkan oleh pankreas tidak mencukupi untuk mengikat gula yang ada dalam darah akibat pola makan atau gaya hidup yang tidak sehat. Beberapa penyebab utama diabetes tipe 2 dapat diringkaskan sebagai berikut:

  • Faktor keturunan, apabila orang tua atau adanya saudara sekandung yang mengalaminya.
  • Pola makan atau gaya hidup yang tidak sehat. Banyaknya gerai makanan cepat saji (fast food) yang menyajikan makanan berlemak dan tidak sehat.
  • Kadar kolesterol yang tinggi.
  • Jarang berolahraga.
  • Obesitas atau kelebihan berat badan

Semua penyebab diabetes tipe 2 umumnya karena gaya hidup yang tidak sehat. Hal ini membuat metabolisme dalam tubuh yang tidak sempurna sehingga membuat insulin dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik. Hormon insulin dapat diserap oleh lemak yang ada dalam tubuh. Sehingga pola makan dan haya hidup yang tidak sehat bisa membuat tubuh kekurangan insulin.

Perawatan Diabetes Tipe 2

Perawatan diabetes tipe 2 adalah dengan memaksa fungsi kerja pankreas sehingga dapat menghasilkan insulin lebih banyak. Jika pankreas bisa menghasilkan insulin yang dibutuhkan tubuh, maka kadar gula dalam darah akan menurun karena dapat diubah menjadi energi. Dalam banyak kasus, dapat diobati dengan minum pil, paling tidak pada awalnya, untuk merangsang pankreas agar menghasilkan lebih banyak insulin. Pil itu sendiri bukan insulin.

Namun pankreas bisa lelah menghasilkan insulin jika terus menerus dipaksa. Cara terbaik untuk mengatasi diabetes tipe 2 adalah dengan diet yang baik untuk mengurangi berat badan dan kadar gula, disertai dengan gerak badan yang sesuai.

Sumber